Sebanyak empat investor asal China berminat membangun pabrik lampu di Indonesia.

"Sudah ada empat investor yang mau masuk ke Indonesia," kata Ketua Umum Asosiasi Industri Perlampuan Listrik Indonesia (Aperlindo) John Manopo, Senin (16/9/2019).

John menjelaskan selama ini sekitar 65% kebutuhan lampu di Indonesia berasal dari produsen asal China. Adanya kesepakatan dagang yang memberikan bea masuk 0% bagi produk lampu asal Negeri Tirai Bambu dan potensi pasar yang besar dinilai menjadi pemicunya.

Indonesia, katanya, dengan 70 juta pengguna aktif daya listrik yang dipasok oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menjadi pasar potensial bagi produsen lampu. Potensi itu ke depan kian signifikan sejalan dengan pesatnya pembangunan di Indonesia, terutama ke berbagai daerah di luar Jawa.

Namun, John mengatakan produsen lampu China mulai berpikir untuk membangun pusat produksi di Indonesia. Salah faktor yang memengaruhinya adalah kenaikan biaya transportasi atau pengiriman produk lampu.

Biaya logistik itu, kata John, meningkat di kisaran 10% - 15% dari total biaya produksi.

"Dulu biaya transportasi murah. Sekarang, kalau mau impor ke sini biaya transportasu bisa 10-15%. Kenapa tidak bangun di sini?"

Selain itu, sambung John, saat ini permintaan lampu dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) tinggi meningkat. Dia mencontohkan saat ini produk lampu sudah masuk dalam e-katalog Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).

Dengan begitu, produk lampu yang bisa masuk disyaratkan TKDN. Padahal, John menilai potensi permintaan produk lampu dari LKPP mencapai triliunan rupiah.

"Jadi, mereka perlu bangun pabrik di Indonesia bila ingin memanfaatkan peluang itu," ujarnya.

John menjelaskan sejumlah investor itu sudah mulai menjajaki rencana penanaman modal di Indonesia. Kendati begitu, Aperlindo mengarahkan agar para investor itu menggandeng pelaku usaha dalam negeri yang sudah bergerak di bidang serupa.

Alasannya, skema itu memudahkan investor. Menurutnya, investasi pengembangan pabrik lampu di Indonesia berkisar US$50 juta - US$100 juta. Terkait lokasi, John menambahkan Jakarta dan Surabaya menjadi tujuan utama.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com