Industri sepatu tanah air terus menggenjot peluang ekspor. Meski persaingan di tingkat global semakin ketat, namun kualitas produksi sepatu lokal tetap terjaga.

Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Sepatu Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri menuturkan, saat ini posisi ekspor Indonesia berada di urutan ketiga setelah China dan Vietnam. Namun kompetisi mulai menguat di mana negara seperti Kamboja mulai menguat ekspornya.

"Ekspor sepatu Indonesia (2018 kemarin) sekitar US$ 5,1 miliar, sementara Kamboja sudah mendekati US$ 4 miliar," sebutnya kepada Kontan.co.id, Senin (26/8).

Oleh karena itu, Firman berharap industri ini dapat didorong dengan regulasi yang meningkatkan competitiveness-nya.

Pasar ekspor terbilang empuk meski dari segi volume tidak sebesar permintaan di tingkat lokal, namun secara value produk yang di ekspor jauh lebih tinggi dibandingkan penjualan di domestik.

Firman mengaku tidak mempunyai detail pasti volume penjualan sepatu lokal, namun diperkirakan peningkatannya seiring pertumbuhan populasi masyarakat di Indonesia.

Untuk sepatu olahraga alias sneakers, trend nya cenderung meningkat disebabkan oleh penggunaannya yang tak mengenal batas dan tempat.

"Sneakers juga digunakan di kantor-kantor untuk busana kasual, dinilai ramah lingkungan juga, porsinya dominan di market global," urai Firman.

Merujuk data Badan Pusat Statistik yang dilansir Kementerian BUMN, untuk negara tujuan ekspor sneakers meliputi, Amerika Serikat berada di urutan terdepan dengan nilai US$ 842,7 juta.

Berikutnya, Belgia dengan US$ 355,3 juta, China dengan US$ 297,8 juta, Jerman dengan US$ 188 juta, dan Jepang dengan US$ 186,5 juta.

Demi mendorong kompetisi produsen sepatu di pasar ekspor, menurut Firman perlu insentif bagi industri yang telah eksisting. Agar industri lokal yang selama ini menjadi supplier brand global dapat terus menggenjot ekspornya dan membantu defisit neraca perdagangan.

Sedangkan untuk market lokal, daya saing ditentukan dengan efisiensi produksi dan bagaimana produsen dapat menghasilkan produk sepatu yang terjangkau. Karena rata-rata konsumsi domestik masih dipenuhi oleh produk sepatu yang harganya cukup ekonomis.

Sumber: https://industri.kontan.co.id