Pemerintah terus berupaya mendorong industri khususnya manufaktur agar dapat mendongkrak perekonomian nasional. Apalagi Indonesia sudah masuk dalam kelompok G-20 dengan kekuatan ekonomi terbesar di posisi ke-16 dunia.

“Kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB masih sangat tinggi, karena kuenya juga masih besar. Jadi, perlu didorong untuk terus tumbuh,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan resmi, pekan lalu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sektor industri masih memberikan kontribusi paling besar terhadap struktur produk domestik bruto nasional pada triwulan II/2019 dengan capaian 19,52% (yoy). Sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, industri pengolahan nonmigas tumbuh 3,98% (yoy) pada paruh kedua tahun ini.

“Kita sedang ingin menjadi negara yang lolos dari middle income trap. Pada tahun 2020, diharapkan kita sudah masuk di dalam upper middle income country. Syaratnya, anggaran penelitian mencapai 2%, produktivitas naik dua kali lipat, dan kontribusi sektor industri sebesar 25%,” kata Airlangga.

Sementara itu, data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang dipaparkan dalam seminar internasional bertajuk Structural Transformation through Manufacturing Sector Development for High and Sustainable Economic Growth di Jakarta, Senin (12/8/2019), menyatakan bahwa tingkat produksi beberapa sektor manufaktur tumbuh di atas 5% secara tahunan pada akhir tahun lalu.

Industri makanan dan minuman (mamin) tumbuh 7,91%, tekstil dan produk tekstil (TPT) 8,73%, logam dasar 8,99%, kulit dan alas kaki 9,42%, dan alat industri 9,49%. Namun, Incremental Capital to Output Ratio (ICOR) membuat pencapaian target pertumbuhan tahun ini di level 5,2% sulit tercapai.

Berdasarkan data Kementerian, ICOR di dalam negeri pada 2018 mencapai 6,3 dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,17%. Alhasil, dengan menurunkan ICOR ke level 6,0, pertumbuhan perekonomian nasional pada tahun ini dapat menembus target 5,2% atau mencapai 5,43%.

Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, nilai ICOR yang rendah membuat pertumbuhan perekonomian suatu negara menjadi tinggi. Hal tersebut ditunjukkan oleh Vietnam dan China yang masing-masing memiliki ICOR di level 43 dan 5,9. ICOR yang rendah tersebut membuat perekonomian Vietnam tumbuh hingga 7,08% pada tahun lalu, sedangkan China tumbuh 6,6%.

Kemenko Perekonomian menilai peningkatan efisiensi pada penanaman modal di Vietnam berkontribusi meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 1,38%. Adapun, inefisiensi penanaman modal pada China menjadikan pertumbuhan ekonomi Negeri Panda terkontraksi sebesar 3,1%.

Menurut Kementerian, industri dalam negeri saat ini fokus dalam meningkatkan ekspor tanpa adanya hubungan antar industri. Konfigurasi dan komposisi yang tepat dapat mengurangi rasio ICOR nasional.

Terdapat potensi pertumbuhan ekonomi nasional dengan meningkatkan investasi pada sektor noninfrastruktur seperti pada sektor pendidikan.

Pemerintah sendiri telah menerbitkan beberapa regulasi untuk meningkatkan industri berorientasi ekspor yang menjadi prioritas dalam program Making Indonesia 4.0.

Beberapa regulasi yang diterbitkan seperti fasilitas pajak penghasilan untuk industri elektronika dan revisi pajak barang mewah untuk pengembangan mobil elektrik. Selain itu, Kemenko Perekonomian mencatat harus ada modernisasi mesin pada industri mamin dan TPT dan kemudahan impor bahan baku bagi industri kimia.

Adapun Kementerian menyatakan penerbitan aturan pengurangan pajak super untuk kegiatan penelitian dan vokasi bagi industri dapat meningkatkan produksi dan performa ekspor pada level agregat.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com