Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) menjadi salah satu bisnis air minum yang memiliki banyak pemain. Melihat kinerja di semester satu, diharapkan pertumbuhan bisnis AMDK bisa mencapai 10% atau lebih dari 30 miliar liter air.

"Pertumbuhannya membaik karena  faktor Pemilu yang kondusif, puasa, dan lebaran," kata Ketua Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) Rachmat Hidayat ketika dihubungi Kontan.co.id, Minggu (21/07). Rachmat juga bilang, kinerja AMDK sepanjang semester satu dipengaruhi oleh kondisi tahun sebelumnya yang menunjukkan tren positif.

Asosiasi optimis target tersebut akan tercapai karena masih akan ada faktor-faktor pendorong penjualan lainnya seperti momentum natal dan tahun baru. Walaupun Rachmat melihat momentum tersebut tidak akan mempengaruhi sesignifikan Pemilu dan Lebaran.

Sementara itu, PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) juga optimistis penjualannya semester dua akan lebih baik. Optimisme ini didorong oleh kinerja semester satu masih sesuai dengan rencana.

"Secara umum, pertumbuhan kinerja semester satu dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya masih on track baik dari sisi penjualan maupun pencapaian laba,"  kata Sekretaris Perusahaan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) Lukas Setio Wongso ketika dihubungi Kontan.co.id, Jumat (21/7).

Sedikit informasi, berdasarkan materi pemaparan publik, untuk mendukung kinerjanya CLEO akan terus melakukan penambahan jaringan pabrik dengan target sebanyak 4 – 5 pabrik secara organik. CLEO juga akan melakukan akuisisi perusahaan minuman lain yang bisa memberikan value dan kontribusi positif bagi perusahaan.

Tanggapan yang berbeda disampaikan oleh PT Akasha Wira International Tbk (ADES). Direktur ADES Thomas M Wisnu Adjie mengatakan sepanjang semester satu penjualannya tidak terlalu dipengaruhi oleh momentum Pemilu dan Lebaran.

"Memang ada pemesanan lebih sebelum lebaran, tetapi dikompensasikan setelah itu ordernya turun," kata Wisnu ketika dihubungi Kontan.co.id, Jumat (19/7). Secara keseluruhan penjualan Ades masih seperti pada hari-hari  biasa. Ia juga menambahkan, di semester dua ADES melihat bisnisnya tidak akan mengalami banyak perubahan.

Berdasar data yang dihimpun Kontan.co.id, ADES tidak terlalu agresif menargetkan pertumbuhannya di tahun 2019, yakni sebesar 15%. Angka ini sama dengan target yang dipatok di tahun sebelumnya.

Terkait produk yang menjadi penopang sepanjang semester I ini, diakui Wisnu sejauh ini kemasan botol berukuran 600 ml berkontribusi paling besar terhadap penjualan ADES. Sementara untuk CLEO, berdasar data di kuartal satu 2019, kontribusi paling tinggi justru disumbangkan kemasan galon sebesar 35,10%, disusul oleh kemasan botol sebesar 32,98%. Padahal pada tahun sebelumnya, penjualan kemasan botol CLEO berkontribusi paling besar dengan angka 37,20%.

Aspin menyampaikan, baik secara volume maupun nilai penjualan AMDK memang lebih banyak ditopang oleh kemasan botol. Kedepannya, diproyeksikan penjualan dari AMDK botol masih berkontribusi paling besar terhadap industri AMDK. Rachmat  menyampaikan, kemasan botol mendatangkan margin lebih besar karena selain membeli airnya konsumen juga membayar untuk kemasannya. Selain itu, pemain dalam sektor AMDK khususnya kemasan botol ini sangat besar.

"Pemain AMDK botol itu menurut dari data BPOM ada 900 lebih ya, kalau data Kementerian Perindustrian 700 lebih ya," kata Rachmat. Ia menambahkan, angka tersebut menunjukan AMDK sebagai salah satu industri dengan jumlah pelaku yang tergolong besar. Ditambah lagi, 90% dari pemain AMDK adalah industri kecil dan menengah.

Sumber: https://industri.kontan.co.id